Selasa, 29 Oktober 2013

Selamat Malam, Tuhan...

Selamat Malam, Tuhan... 

 “Tuhan mana ya? Saya lagi  bingung nih.”

Mungkin kadang terlupa, bahwa kita hanya perlu diam sejenak dalam hantaran doa dan menyapa Dia yang kita sembah dengan beragam cara, “Selamat Malam, Tuhan.”

Malam ini, ketika hanya tersisa sebongkah kerinduan, saya hampir kehabisan semangat untuk menjalani setiap detak yang melaju pada waktu.Tuhan baik sekali, tanpa tahu bagaimana caranya, Dia selalu mampu membuat saya bertemu pada mimpi-mimpi yang semula hanya terangkai di dunia idea.

Sampai pada satu titik, kadang merasa diri ini sudah terlampau sering meminta tanpa pernah bersyukur pada nikmatnya. Seolah merasa tidak pernah berbuat adil pada Tuhan, pada semua yang pernah Dia berikan sepanjang saya menghabiskan jatah oksigen di dunia.



“Tuhan mana ya? Saya lagi sedih, nih…”
“Saya mau minta sesuatu nih sama Tuhan, semoga lekas dikabulkan.”
“Tuhan, boleh nggak saya balik lagi aja ke masa lalu.
Saya ngerasa nggak cocok di sini.”

Beberapa kalimat di atas adalah hasil perbincangan saya bersama Tuhan setiap kali saya bersujud padanya. Setiap kali sedih, saya mencari Tuhan. Setiap ingin meminta sesuatu, saya pun merengek pada Nya. Setiap kali merasa tak mampu menjalani keadaan, saya mengaduh pada Nya.

Hingga saya tersentak dan kian merasa, betapa saya belum sempat mengucapkan terimakasih padaNya.

“Tuhan kenapa baik banget sih? Saya minta ini dikasih, minta itu dikasih. Sementara udah dapat apa yang dikasih, saya malah mau kembaliin semuanya. Balik lagi ke masa-masa sebelumnya.”


Terkadang kita hanya perlu kehilangan, untuk tahu betapa berartinya sesuatu. So, untuk kalian yang saat ini sedang mengeluh tentang kemacetan Jakarta, percaya deh ada banyak kok orang-orang di pulau lain yang lagi iri dan kangen banget sama ibukota yang satu itu.

Kalau ada yang masih ngeluh tentang meeting sana sini, lingkungan kerja yang nggak asik, teman dan atasan kantor yang nggak seru… percaya deh, ada banyak orang yang saat ini lagi kelimpungan nyari kerjaan baru.

Well, terkadang kita hanya perlu belajar untuk tahu bagaimana caranya bersyukur. Sementara tangan dan kaki sibuk melerai keadaan yang sering tidak bersahabat, maka otak dan hati sedang minta untuk diistirahatkan untuk sesekali mengucap syukur dan berdamai dengan kondisi.

Terimakasih atas keheningan yang menyapu bingkai kehidupan, atas batin yang terjaga pada setiap jiwa yang bernaung di bawah kaki langit. Terimakasih atas setiap nafas yang kian terhembus tersapu desir angin yang merentang masa, serta untuk semua hal disekeliling yang kian menua pada lamban rentang waktu. Terimakasih untuk selalu hadir pada setiap helai penceritaan, wahai Hyang Esa Tunggal, Tuhan, Allah, Sang Maha, An Nur, serta semua penamaan yang mengarah padaMu.

Selamat Malam, Tuhan.

Minggu, 20 Oktober 2013

Men, You are What You Manage


Men, You are What You Manage

Pernah dengar ungkapan bahwa kita nggak bisa melihat kedewasaan orang dari umurnya semata? Exactly, hal itu sekarang yang kelihatan banget di depan mata saya.

Ada satu sosok yang sukses bikin saya bengong sejenak. Sosok sederhana, bahkan terlampau sederhana yang awalnya saya pikir sedikit lebih tua, atau seumuran, atau paling tidak setahun lebih muda… and guess what? Dia ternyata seumuran adek saya (jangan tanya berapa tahun beda rentang usianya).

Usut punya usut, rupanya dia anak pertama, lho. Hm, mungkin tempaan hidup yang bikin dia terlihat dewasa.

Well, setiap orang pasti punya cara tersendiri untuk melihat sikap orang lain, dan saya tampaknya cukup peka dengan hal itu. Well, balik lagi ke standarisasi subjektif setiap individu lho, ya. Tapi buat saya pribadi (ada kaitannya dengan travelling):

“Cowok yang teruji bisa bikin manajemen perjalanan, mau repot sana sini cuma demi kesuksesan sebuah perjalanan, mau ribet ngatur ini itu untuk prepare perjalanan, peduli sama rekan perjalanannya dan nggak cuma sama diri sendiri…. Tingkat KEDEWASAAN dan ketampanannya meningkat 99%.”

(ini menurut saya pribadi lho, ya)

Balik ke sosok yang saya bilang sebelumnya, ternyata di usianya yang terbilang masih lebih muda dari saya itu, dia terlihat dewasa bukan hanya karena dia anak pertama, tapi karena sikap dan caranya memperlakukan orang sekitar, and yes… cara dia bikin manajemen perjalanan bersama tim nya.

Saya jadi ingat respon salah seorang teman saat saya mengutarakan tentanng cara saya melihat bentuk kedewasaan seseorang. Dia langsung menimpali,

“Mendingan lo cari cowok yang profesinya TRAVEL GUIDE gih sana.”

Haha, iya juga sih. Ah, tapi saya punya alasan kenapa menurut saya cowok yang bisa bikin manajemen perjalanan itu masuk kategori cowok DEWASA dan menarik. Well, at least lumayan reasonable lah. Begini maksudnya: Mereka yang terbiasa atau sedang mencoba untuk bikin manajemen perjalanan yang baik, bisa kelihatan beberapa hal.

Pertama, gimana mereka bisa bertanggung jawab untuk bisa bikin semua hal jadi lancar (from A to Z). Kedua, Bisa dilihat gimana mereka care/peduli nggak sama teman-teman perjalanannya. At least nggak hanya mementingkan diri sendiri, tapi mementingkan orang lain. Nggak sibuk mikirin diri sendiri udah makan atau belum, tapi mikir gimana caranya teman-teman yang lain juga bisa ikutan makan. Ketiga, di saat-saat genting dan mesti ambil keputusan, apa mereka bisa memutuskan sesuatu dengan kepala dingin, tanpa bikin keadaan jadi tambah panik dan runyam. And last but not least, mereka yang bisa meng-handle sebuah perjalanan dengan tim nya itu bukan orang yang sok-sok an mengaku jadi leader dan bisa seenaknya nyuruh-nyuruh lho ya. Tapi mereka yang rendah hati mau ngelakuin hal-hal demi kepentingan orang banyak.

Finally, ini pure subjective lho ya. Setiap orang pasti punya karakteristik untuk melihat sisi kedewasaan dan menariknya orang lain.

 Sanur, 20 Oktober 2013


Selasa, 10 September 2013

Burung Kertas

BURUNG KERTAS

Ternyata, saya tidak sekuat yang saya bayangkan.
Ketika pernah ada di masa-masa paling sulit dalam hidup
Saat harus sendirian memperjuangkan idealisme yang hampir runtuh ditengah gempuran dan tekanan dari berbagai pihak…
Ketika itu berpikir untuk menghilang sejenak.

Kamu tahu, saya tahu
Warna itu sangat punya arti
Dan saya menemukan warna yang sama dalam sebuah lipatan burung kertas,
Entah ini sebuah kebetulan atau bukan.
Tapi saya tidak akan lagi peduli.
Terimakasih untuk semua hal yang pernah hadir dan ada.

Pernah tahu bagaimana rasanya bisa meraih mimpi sama-sama?
 Tanpa ada keengganan untuk saling mengelak menghantarkan keluh.
Kita tidak pernah berbagi tentang rasa,
 tapi kita punya cara yang sama untuk berbagi
meraih mimpi yang kita simpan masing-masing.

Seseorang pernah bilang,
“Nggak suka banget nih dengan keadaan kayak gini.
Keadaan yang bikin stuck, susah mau ngapa-ngapain.”

Keadaan yang membuatnya seolah tidak lagi punya kesempatan untuk melakukan pilihan, seolah eksistensinya telah direnggut dengan hadirnya pilihan yang menjebak.
Ah, ini menjadi semacam ironi yang menelantarkan ketidakberdayaan seseorang.

Dunia ini mengingatkan saya pada banyak hal, tentang satu per satu bentang perbedaan.
Perbedaan itu ada di mana mana,
dan kita tengah bersengketa dalam perbedaan yang tak lagi bisa kita pahami.

Menulis pun rasanya muak dan lelah,
atau mungkin karena saya sedang kehilangan imajinasi
Saya tengah rindu masa-masa dimana saya, dia, kamu, kita dan mereka belum saling mengenal.

Berjalan dengan sebuah rasa yang tidak pernah kita tahu bagaimana bentuknya,
Kamu, saya dan kita serupa kisah terburuk yang pernah dialami sepasang insan
dan kita telah menodai idealisme yang kita miliki sama-sama.

Ini bukan sekadar pertanyaan superfisial, bahwa:
Kita tak pernah menanamkan apa-apa, lantas kita tak akan pernah kehilangan apa-apa

Rabu, 02 Januari 2013

Rekayasa Akhir Tahun, Selamat Tinggal Desember



Rekayasa Akhir Tahun, 
Selamat Tinggal Desember

Tuhan mana ya? Saya lagi bingung, nih...

Ada kecemasan yang tak pernah tahu bagaimana mengurainya.
Kata yang semula jadi senjata ampuh untuk meredakan rasa tidak menentu, 
kini tak lebih dari sebuah palung pelarian yang tak pernah bisa dimengerti alurnya. 

Sudah sebisa mungkin konsentrasi penuh, tapi baru lima menit lihat layar komputer,
sudah menyerah karena pikiran ini semakin tidak terdeteksi arahnya.
Terseret arus dalam pusara angin tidak terbaca, 
terhentak begitu saja...
melesat dalam kepingan yang tak pernah tahu bagaimana cara mengendalikannya

Mau dengar aja lagu yang cepet, teriak-teriak sambil lompat-lompat kalau perlu koprol.
menghilang dalam keheningan bumi sambil mengutuki diri yang sebegitu bodohnya, membiarkan ada hati lain yang terluka

Tenang saja, dunia belum lekas menghilang jika hanya kamu atau saya yang pergi

Sejak awal, rasanya saya sudah paham sekali bahwa kita berbeda. 
Tanpa perlu tahu tahu apa yang kamu rasakan, saya sudah cukup mengerti untuk menyadari bahwa kita berbeda. 

Dimana letak perbedaannya?
Bukankah perbedaan adalah warna yang bisa membuat kita semakin lengkap?
Bukankah perbedaan adalah satu dari sekian alasan tentang kenapa Tuhan menciptakan cinta?

Sepertinya tidak, ada perbedaan begitu essensial yang saya pikir awalnya bisa ditolerir. 
Hingga akhirnya saya dihadapkan pada sebuah fakta nyata keadaan,
... Saya menyerah
ternyata Tuhan memang belum ingin mempertemukan kita.

Jadi, menghilang saja...
Pergi dan jangan kembali dalam waktu dekat

Sampai kapan?
Sampai nanti saya punya kekuatan lebih untuk bisa mengerti tentang keadaan ini. 
Sampai nanti saya punya seribu satu nyali untuk sekadar menatap kamu, tanpa perlu merasakan bahwa sakit itu kian tersisa

Tahu kenapa? iya, ini seperti saya yang akan pergi pelan-pelan, tanpa kamu sadari.
Karena tetap berdiam di sini adalah kesakitan terbesar yang akan saya rasakan, sebelum sempat merasa siap bahwa saya akan kehilangan kamu

Di tengah ketidaksiapan, saya memilih kilang hati lain yang datang menghampiri
berharap ini bisa membuat saya melepaskan semua ingatan tentang kamu.

Malam ini, tepat ketika bulan Desember sudah berakhir
tepat ketika itu saya semakin yakin untuk menepi sejenak.
menghilang dari kebersamaan yang selama ini dijalani antara saya, kamu, dia dan mereka...

Seseorang pernah bilang, Semoga bisa bertemu dengan orang yang tepat di waktu yang tepat.
kali ini, saya hanya ingin beralih
Membuka sebuah babak baru dari sepersekian kehidupan yang menyongsong
Membiarkan hati terbawa dalam arus yang tak pernah saya tahu sebelumnya
Melepaskan semua ikatan yang selama ini kian membatasi langkah

... Hingga akhirnya saya bisa menghilangkan semua imaji tentang kamu yang menghuni setiap membran sel

Selamat tinggal Desember
Rupanya Tuhan tidak perlu waktu yang lama untuk menunjukkan bahwa saya harus segera beralih
Tepat ketika bulan Desember menghilang dengan jejak yang menyambut sang Januari...


Sabtu, 18 Agustus 2012

Agustus bersama 3 Fenomena


Agustus bersama 3 Fenomena

 Dari 12 bulan dalam setahun, kenapa harus agustus? Tempat dimana perhelatan, perayaan dan perpisahan berkubang dalam jurang yang sama. Sedih, bahagia itu tipis bedanya. Tahun ini, agustus menyimpan banyak kisah yang enggan disentuh sedikitpun.

Sejenak ingin berkata kenapa Agustus datang sebegitu cepatnya. Seolah Tuhan tidak sedikitpun menyisakan jeda dalam perkara yang menjamah kehidupan. Nafas saja rasanya sesak sekali saat mendapati Agustus tiba-tiba datang, sementara kelegaan tidak lantas menyambangi.

“Kita nggak bisa berharap ada satu hari yang hilang dari kalender masehi.
Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah menantang hari itu datang.”

Doa malam tadi, cepat lelap, terbangun pagi hari dan berharap mendapati diri bukan di tanggal 1 agustus. Tiga perayaan di bulan agustus, tiga-tiganya tanpa rasa. Harusnya bumi tak ikut merayakan.
Cuma ada satu nafas yang bersandar dalam bias yang mengaduh, sisanya terdampar di sudut hati masing-masing. Selamat datang agustus.

Saya selalu suka menyambut bulan yang mereka sebut bulan ramadhan, masa-masa dimana saya bebas bertarung dengan malam. Masa dimana jemari dan imajinasi berkeliaran tanpa bisa dihentikan. Masa dimana saya berterimakasih pada Tuhan. Masa dimana saya berharap ‘lebaran’ tidak lekas datang.

Sebagian menyebutnya hari raya kemenangan, buat saya itu tidak lebih dari duka yang berlindung dibalik topeng sebuah perayaan. Sementara tubuh-tubuh berkepala itu menyambut hari dengan rasa yang bergejolak, saya lebih memilih terbenam di ruangan sendirian. Ada silam masa lalu yang sedang bermetamorfosis pada ingatan masa kini ketika saya menatap kalender bertuliskan hari raya idul fitri.

Tradisi lebaran? Makanan kesukaan lebaran?

Ah, saya Cuma bisa menarik nafas dan lebih suka menghindar dari perbincangan. Saya cukup sadar untuk tidak merusak kebahagiaan banyak orang dengan berkata bahwa ‘saya benci hari itu’. Faktanya, mungkin saya hanya satu dari sekian orang yang punya pikiran setengah tolol macam begini. Beberapa orang dengan tingkat agama yang fanatik mungkin berkata bahwa saya ini kafir. Biar saja mereka mencibir, biar saja mereka menyebut saya gila. Biar saja mereka sibuk dengan alur pikiran masing-masing.

Apa mereka tahu bagaimana rasanya menyimpan ketakutan setiap kali hari raya itu datang? Apa mereka tahu bagaimana saya sekuat tenaga menyembunyikan duka yang bahkan tidak pernah bisa saya sembuhkan? Apa mereka mengerti bagaimana rasanya harus berpura-pura memasang wajah bahagia sementara pikiran tengah berkecamuk di atas luka? Ada hal-hal kontradiktif yang urung disembunyikan hanya untuk sekedar berkata bahwa keadaan itu baik-baik saja. Bertahun-tahun semuanya berhasil ditutupi, kali ini persetan dengan keadaan. Mungkin Cuma Tuhan yang mengerti bagaimana saya menguatkan diri untuk menghindar dari perayaan ini. Sementara yang lain mencaci dalam makian dan melontarkan banyak hujatan, saya lebih memilih menghindar sejenak.

Agustus akan jadi bulan yang kelam tahun ini, sementara saya pun lahir di bulan yang sama, tepat tanggal 29 agustus. Saya suka tanggal lahir saya yang berakhiran Sembilan. Tanggal lahir ini menarik, seperti saya yang lebih suka angka Sembilan daripada gegap gempita angka sepuluh. Sampai sini, saya suka tanggal lahir saya. Tidak ada tendensi pada hal-hal yang terjadi dalam kehidupan, saya cuma benci perayaan. Saat ada yang mengucapkan ulang tahun, ya jawab saja terimakasih. Selebihnya, cuma ingin cepat-cepat tenggelam di balik pikiran dan membiarkan setengah bagian dalam hidup ini sendirian. Mengelak pun tak ada gunanya, jadi biarkan saja.

Kalau ada satu kesempatan untuk tidak memiliki masa lalu, saya mau.
Kalau ada satu pilihan untuk tidak merayakan, saya mau.

Belum habis sampai di situ, bulan agustus rupanya menyisakan jurang perpisahan. Seorang kakak, sang Geologis Optimis, sekaligus iblis yang baik… menjalani masa studinya di belahan dunia sana. Ah, sesak sekali rasanya membayangkan saya kembali sendirian. Kembali ditinggal oleh orang yang jadi tempat saya berani menampung kisah, orang yang tidak pernah lelah berhenti mendengarkan, orang yang tidak pernah kehabisan tenaga untuk mendukung, dia pergi lagi. Sulit sekali rasanya menerima keadaan bahwa perginya dia adalah salah satu cara Tuhan untuk membuat saya bisa berdiri di atas kaki sendiri. Ketergantungan itu harus sirna, dengan kenyataan penuh bahwa saat ini saya sendirian.
Diantara semua kebodohan yang pernah ia lakukan di bumi ini, buat saya ia lengkap. Sosok kakak sekaligus orangtua buat saya. Tepat di saat saya mesti kehilangan sosok orangtua, Tuhan masih menyisakan sedikit ruang untuk saya. Rasanya tentu saja beda, tapi buat saya ini cukup. Di saat orang lain bahagia dengan kenangan masa lalu yang menyenangkan bersama keluarga, saya lebih baik melipir pergi, karena saya tidak seberuntung mereka.

Bersembunyi di kamar ketika kegaduhan merajalela di luar sana adalah hal yang sulit sekali terlepas dari ingatan. Berdiam di dalam ruangan dengan setumpuk buku adalah satu-satunya pilihan yang bisa saya ambil, daripada harus bertarung dengan semua justifikasi sepihak tidak terkendali di luar sana. Diantara semua peristiwa yang tidak lagi terkendali, ketidakadilan masih saja datang.

Ingin rasanya menantang dunia, bahwa materi saja tidak cukup untuk membuat seorang anak menjalani masa tumbuh kembangnya. Mungkin tak ada yang pernah menyadari bahwa kegigihan menyediakan materi berlebih adalah hal utama yang membuat seorang anak tidak lagi punya tempat. Hampir semua bagian dalam hidup saya terbentuk dari lingkungan. Keluarga Cuma aspek terluar yang bahkan tidak saya kenali sedikitpun.

Ah, andai saja Tuhan memberi kesempatan pada saya untuk menyampaikan aspirasi sebelum dilahirkan ke dunia, ingin lahir di tengah materi atau orangtua?
“saya pilih yang kedua”

Two years later, ada tiga kepala yang berdiri di atas kaki masing-masing. Kita akan dipertemukan kembali pada yudisium di almamater berbeda. Menutup semua akses pada ingatan masa lalu yang cuma membuang tenaga. Kita hidup di masa sekarang dan menyambut masa depan dengan segala bentuk tantangannya, bukan?

Selamat datang Agustus.
Tanggal 29 di bulan Agustus berjumlah 31 hari, 
harusnya bisa jadi pelengkap yang sempurna dalam perjalanan hidup saya.
Sementara ada banyak hal yang berkeliaran di luar sana kian menusuk silam masa lalu,
 saya selalu diberi kesempatan untuk bisa membunuh masa lalu.

Foto: Corbis




Rabu, 04 April 2012

Menduga tanpa alibi


Menduga tanpa Alibi

Kalau terka sudah lantas terutarakan, hingga tanya yang meragu dalam deru gelisah menyibak pun diam memudar. Maka hendak apa yang mengusung pijak semata? Sayup itu meredup tersahuti membentang bisik dalam setiap peraduan kata. Ketika sulit sekali berkata, ketika itu cuma ada diam yang menenangkan.
Ada jarak yang sebegitu jauhnya terbentang, hingga tersentak dalam sadar bahwa dulu kita berdiam sebegitu dekatnya namun tidak lantas berkata apa. Hingga saat ini sudah terlalu jauh, ternyata Aku cuma bisa tersenyum mendapati bahwa rupanya rindu itu telah datang menyapa. Rindu yang semula selalu kusangkal keberadaannya, karena kuyakin bukan kamu.
Ah, ingin mengelak saja.
Sejenak ingin menenggelamkan rasa dalam tepian bumi. Tapi, semakin keras menenggelamkan, semakin sering gelisah itu datang menyambangi. Aku gelisah karena sedari tadi rindu ini terus-terusan membayangiku tanpa henti.
Hm, boleh berkata bahwa ini mengerikan?
Ketika rindu datang dan tak tahu harus diapakan, ketika itu ada rasa yang tak terutarakan, karena hanya sesak yang menyeruak pelan-pelan.
Berseberangan dengan rasa yang tidak disangka rupanya hadir. Sudah hampir dua tahun yang lalu sejak Aku HARUSNYA menyadari bahwa kamu ada. Mungkin lebih tepatnya bahwa rasa itu MUNGKIN ada.
Mungkin benar, sesuatu akan indah pada waktunya.
Sementara dulu Aku tertambatkan pada hati yang lain, ternyata kali ini Aku ingin menepi ke arahmu yang dulu berjarak dekat sekali. Namun tersandung nyata dunia, bahwa kita berada dalam rentang jarak yang sebegitu jauhnya. Andai rindu ini datang lebih dulu, sebelum salah satu diantara kita pergi, ah mungkin Aku tidak akan se-gelisah ini. Sulit sekali menatap ulang gambar-gambar di masa lalu saat tak pernah terbayangkan bahwa kamu akan berhasil menorehkan rasa dalam benak ini. Sulit sekali mengingat tatapan mata yang kamu hantarkan begitu menenangkan, namun baru kusadari saat ini, di masa sekarang. Tepat ketika Aku tak lagi punya alasan untuk bertemu kamu.
Dulu, seharusnya kita punya banyak waktu untuk bisa bersama, menengahi rasa yang mungkin hadir antara kamu dan Aku. Tapi Aku terlalu sibuk dengan kepingan hati lain yang terhantarkan selain kamu, Aku menyambut dia datang, sementara kamu semakin menjauh. Jauh sekali hingga Aku tak menyadari bahwa kamu ada.
Mungkin ini sudah begitu terlambat untuk menyadari bahwa, ah ternyata kamu meninggalkan kesan. Lebih terlambat lagi saat mungkin saja kamu tidak lagi sendiri saat ini. Hm, apalah yang bisa Aku perbuat, jarak ini sudah sebegitu jauh ditambah kamu yang tak lagi sendiri. Lengkap rasanya bahwa terlambat begitu mendominasi.
Aku suka jaket hitam yang kamu kenakan, terlebih saat kita bertemu di koridor tepat di saat Aku sedang menghitung detik pertemuan kita yang begitu singkat. Tapi saat itu ruangan masih terlalu sempit untuk bisa membuatku berlama-lama di depanmu. Hanya beberapa detik kita mampu berhadapan, hingga setelah dunia terhabiskan masa kita kembali tenggelam dalam rutinitas masing-masing.
Mungkin tidak pernah ada yang tahu bagaimana rasanya mendapati kisah yang terlambat disadari. Mungkin ini harus kembali terkubur, sejenak dalam rentang masa pertautan waktu. Karena Aku bahkan tak lagi punya alasan untuk bertemu kamu, Aku tak punya keberanian untuk sekedar berkata ada rindu yang hendak membuncah malam ini. Hingga akhirnya, Aku tak punya kuasa untuk mendapati kamu yang saat ini mungkin sudah bersama yang lain. Tak ingin berbuat apapun, hanya ingin menyimpanmu dalam sudut terdalam jiwa. Karena kamu pun belum tentu menyimpan rasa yang sama.
Saat Aku mendapati ada sosok lain yang mungkin tengah mengisi relung tertentu dalam hatimu, saat itu juga Aku mulai mengubur pelan sisa-sia kepingan hati. Aku tengah menyiapkan setiap pertautan hati yang kumiliki untuk melihatmu bersanding dengan yang lain. Selamat ya… sosok itu memaang menarik, selalu ada senyum yang berusaha kuhantarkan saat melihatmu bersama dirinya.
Buatku, kesederhanaan kamu itu menarik. Kamu hadir dengan pola yang berbeda, sederhana sekali. Sesederhana tatapan yang baru kusadari bahwa itu mampu membuatku begitu nyaman. Sesederhana kata-kata yang pernah kamu tuliskan dalam setiap puisi yang entah tertujukan pada siapa. Sesederhana itu juga mungkin cinta yang Aku punya kali ini. berkali-kali kusangkal pada diri bahwa ini bukan cinta, berkali-kali juga aku terdiam begitu saja tanpa mampu menunjukkan rasa macam apa yang sedang memutari alam pikiran. Oh, ya dan satu lagi… Kamu terlalu sederhana sampai-sampai Aku butuh waktu dua tahun untuk meyakinkan diri bahwa ternyata Aku rindu.
Huff… kali ini menarik nafas saja sulit sekali rasanya. Sudah lama sekali Aku minta pada Tuhan untuk tidak jatuh cinta lagi, sementara waktu. Dan ketika Tuhan mengembalikan rasa, miris sekali saat Aku harus mendapati bahwa rasa itu tertuju pada kamu. Iya… Kamu yang tak lagi bisa kutemui alasan untuk bisa sekedar bertemu.
Kamu ingat tentang sesuatu milikku yang sempat tertinggal? Dan kamu bersikeras menggantinya padahal Aku tak meminta. Ingin rasanya Aku menjadikan itu sebagai alasan untuk bertemu kamu, tapi Aku tidak sekuasa itu. Aku bahkan tidak lagi punya tenaga untuk sekedar beranjak menemui kamu. Saat kamu bertanya kapan Aku akan mengambilnya, Aku hanya bisa mengulur waktu, entah sampai kapan bahkan entah untuk apa. Saat itu, Aku hanya ingin menunda selama mungkin agar asa untuk menemuimu tidak akan pernah lenyap begitu saja. Agar Aku masih bisa berpura-pura punya alasan untuk menemui kamu, padahal tak sedikitpun Aku mampu. Sedikitpun Aku tak ingin mengambil sesuatu yang sempat tertinggal, bertemu kamu setelah itu habis masanya dan Aku benar-benar kehilangan alasan untuk menemuimu. Biarlah seperti ini, saat kita tidak pernah bertemu tapi Aku selalu mendapati diriku berdiam dalam asa untuk sekedar bertemu.
Kita sudahi saja malam ini, seperti saat ini Aku tengah menyudahi rasa untuk kembali lagi pada dunia nyata. Dunia sebelum Aku sempat punya rindu untuk kamu. Dunia yang sempat membuatku tetap bisa menghirup oksigen tanpa harus mengingatmu. Dunia yang menawarkan candu atas kasih yang selalu dilingkupi bayangan semu.
Selamat malam



Tika Sylvia Utami
Communication Specialist|Feature Reporter|
Philosophy Universitas Indonesia|
Writing,Editing,Journalism|Relation|
Blogger|Social Interest


Rabu, 15 September 2010

kita akan bertemu lagi, meski dalam kehidupan yang berbeda

Kita akan bertemu lagi, sekalipun dalam kehidupan yang berbeda

Seperti Rintik gerimis yang selalu lebih menenangkan daripada hujan
Seperti Senja yang menoreh terlihat lebih begitu eksotis daripada malam
Seperti itu juga saya lebih suka angka 9 daripada gempita angka 10

Rintik gerimis memang selalu lebih menarik daripada hujan... 
Hujan selalu membuat saya sedih karena terjebak dalam bayang masa lalu. 
setelah itu melebur begitu saja tanpa tahu harus diapakan...

...
  
iseng-iseng searching nama seseorang di facebook, tapi baru sadar akhirnya kalau sekarang dia udah gak ada.
Terakhir ketemu itu pas reuni smp, iya beneran pas reuni smp dan saat itu gue kelas 1 sma.
...
...
Jaraknya jauh sekali hingga akhirnya saya ada di semester 3
harus mendapati kabar bahwa...
... sosok orang yang pertama kali menyatakan rasa di kelas 4 SD
... sosok sang ketua geng yang saat itu selalu melindungi saya
... sosok orang yang selalu membuat saya senang ada di sekolah
... sosok orang yang lari kencang setelah mencium saya sewaktu masih SD
                 .... sudah lantas pergi menuju ribaan sang pencipta
                 .... ketika kita sama-sama duduk di bangku SMA kelas 2
Dan kabar itu baru saya dapatkan 3 tahun setelahnya.
Ingin berkata bahwa ini menyedihkan... (tapi rupanya lebih dari itu...)
Tangisan di tengah malam saja tidak membuat saya menyesal.
Diri yang meratapi kepergian saja tidak cukup tangguh untuk sekedar menerima keadaan.
Hanya sesak ingin berteriak...
Tersatukan dalam lemah, hingga hanya bisa terdampar di sudut hati.
 ...
    ...
Berharap ini hanya mimpi,
Berharap ia tidak pernah pergi sejauh itu.
...
   ... "Ada satu yang bikin cinta elo gak sempurna, dia gak pernah tau cinta elo itu ada" 
       (Christian Sugiono... Jomblo the movie)


...
Saya tidak peduli entah ini cinta atau bukan...
Sayang atau hanya sekedar kagum...
Persetan dengan cinta, saya hanya mau KAMU...
...
Seandainya saja masih ada satu kesempatan untuk saya mengatakan bahwa rasa itu pernah ada...
Seandainya Tuhan menghadirkan dia kembali
Sekalipun itu dalam mimpi,
Sekalipun hanya sekedar terbatasi dimensi ruang dan waktu
Sekalipun hanya sekelebat dalam asa tidak terlihat
Sekalipun dalam tangisan yang tertidur...
hanya ingin berkata, bahwa saya pernah mencintai kamu

Ingin marah memberontak menghujat sang pencipta
namun urung terdesak dalam tangis membelenggu.
Kenapa kau hadirkan dia yang membuat saya mencinta tanpa aral tertujukan,
Namun kini kau menariknya dalam angkasa yang menyentuh
Hingga kami terpisahkan sekat penghalang,
Tanpa sempat mengungkapkan bahwa rasa itu pernah ada.


...
Hingga itu, 
Saya tidak lagi pernah tahu  bagaimana rasanya jatuh cinta.
mungkin karena dia...
karena dia, satu-satunya alasan kenapa saya tidak bisa mencintai yang lain.
...
   ...
Saat ini, saya ingin berhenti
Melepaskan diri dari sesal yang pernah ada
Menanggalkan semua bayang-bayang kamu yang terhantarkan...
Meski tidak lantas berani untuk sekedar berkata bahwa saya 'telah jatuh cinta lagi'


... Saya menemukan yang lain...
Tapi bahkan saya tidak pernah bisa berbuat apapun ketika ketidaknormalan itu datang...
...
    .... Mungkin nanti kita akan bertemu lagi, sekalipun dalam kehidupan yang berbeda

...

Untuk kamu yang berada di alam sana,
... saya ingin tetap menyimpan kamu dalam sudut kecil yang teristimewakan di sudut hati


-Tika Sylvia Utami-





Jumat, 10 September 2010

Antara saya dengan ketidaknormalan ini



Antara saya dengan ketidaknormalan ini

Kata mereka saya cuek...
Dia bilang saya egois...
Kata beliau saya tidak pernah ingin berbagi...
Menurutnya, perdebatan saya selalu bernada amarah...
Ucap kamu, saya terlalu rumit

Dulu... Saya bisa duduk berjam-jam di depan layar untuk sekedar berbincang.
Ketika itu, saya bisa begitu senang saat pertemuan itu datang

... Hingga ketika masanya tiba..
... Sesuatu yang tidak normal itu kembali datang...

Tahukah kamu, bahwa ketika akhirnya ketidaknormalan itu muncul
Saya tengah berusaha keras di tengah pergulatan hati yang kian melemah.

... Tapi kamu tidak pernah tahu bahwa saya bahkan sedang bertarung dengan absurditas mengenai konsep kebenaran hati.
... Kamu tidak pernah tahu seberapa besar keinginan saya untuk keluar dari keterjebakan ini.
... Kamu tidak pernah mengerti ketika ketidaknormalan itu datang, saya tidak lagi bisa mengelak.

TAPI KALI INI KONDISINYA BERBEDA...

Ketika saya kembali berada dalam ketidaknormalan ini,
Ketika saya merasa tidak lagi bisa melanjutkan,
Ketika saya hampir menyerah dan mempertanyakan untuk sekedar beranjak...
Dan, ketika saya hampir tidak lagi memiliki alasan untuk bisa bertahan ada di sini,

... Tapi,
            .... Entah kenapa saya masih saja ingin berada di sini.
Saya ingin di sini, tanpa kata yang terhenti dalam jeda.



Kamis, 09 September 2010

Apa seharusnya saya pergi sejak dulu...



Apa seharusnya saya pergi sejak dulu...


Kenapa dulu meminta saya untuk tidak pergi?
Apa ada indikasi lain dibalik itu?
Apa yang dulu membuat kamu meminta saya untuk tetap di sini bersama kamu?
Apa hanya untuk sekedar berjalan bersama tanpa aral tertujukan?


Kenapa?


Kalau sekarang tidak sedikitpun menahan saya,
Lantas kenapa dulu pernah meminta saya untuk tidak pergi?


Kalau saya pergi sudah jelas bahwa saya pergi,
Lantas kalau saya tidak pergi, buat apa saya di sini?


Apa kamu tahu bahwa semua ini terlalu melelahkan?
Atau hanya saya yang menganggap ada yang istimewa di sini?


Kamu EGOIS
Ingin membuat diri merasa lega dengan mengatakan sesuatu kepada saya,
Tapi tahukah kamu, bahwa semua ini justru membebani saya dengan semua rasa yang kamu punya!


... Kamu tidak perlu menjadi malaikat untuk sekedar bisa menjaga saya


Jauh sebelum ini, lebih baik kamu tidak mengungkapkan.
Karena itu hanya membuat saya lelah...
Kalau kamu pikir dengan saya memutuskan untuk pergi,
Lantas saya tidak lagi kelelahan...
... KAMU SALAH...


Saya sudah merasa lelah sejak awal, sejak kamu menguraikan kata
... dan sekarang mungkin sudah terlambat untuk bisa mengobati.
Karena itu saya memilih dia yang sedang menunggu di luar sana.
Dia yang menunggu dengan sejuta cinta terberikan.


Tapi dengan bodohnya, saya masih saja di sini menunggu kamu dengan atau tanpa alasan



Rabu, 08 September 2010

Saya mau kamu, sekalipun tidak sesempurna sang malaikat


Saya mau kamu, sekalipun tidak sesempurna sang malaikat
Apa harus menjadi malaikat dulu untuk bisa menjaga saya siang dan malam? Faktanya... saya memang tidak pernah minta untuk dijaga. Saya bahkan tidak pernah mau tahu apa yang kamu lakukan, bersama siapa, kapan, dimana? Karena saya hanya ingin berhadapan dengan kamu yang berada dalam determinasi ruang dan waktu. Saya dan kamu... kita terbatasi. Lebih dari itu, saya tidak pernah peduli.
Tapi itu DULU...
Sesaat sebelum saya memutuskan untuk benar-benar pergi lantas meraih hati seseorang yang sedang menunggu di ujung sana.
(when you love someone... just be brave to say). Kata-kata seorang teman begitu menohok, hingga akhirnya saya tidak ingin melakukan kesalahan kedua. Dan kita pun berbincang ketika bulan tengah merajai malam.
Pembicaraan yang menurut saya hanya berkutat di pusaran yang itu itu saja. Selalu begitu alurnya. Kita berbeda. Saya yang tidak mengerti kamu, dan kamu yang tidak mengerti saya. TITIK!!!!! Lantas? Kenapa masih bertahan?
Dulu, saya selalu punya alasan untuk bisa menunggu orang lain. Tapi kali ini, saya bahkan sudah tidak lagi punya alasan ketika memutuskan ingin tetap bersama kamu meski tanpa aral yang mengikat. Saya mau kamu... tanpa kata yang terhenti dalam jeda. ITU SAJA.
Saya memang berbeda. Jadi tolong pahami saya juga dengan cara yang berbeda.
There is no instant love. Saya pikir ini terlalu cepat.
Saat itu, ketika kita berada di sebuah koridor lantai 2. Ketika saya berkata jujur bahwa ada seseorang di luar sana yang sedang menanti, saya sangat berharap kamu menahan. Kalau saja kamu menahan untuk tidak pergi, saya pasti akan melepaskan yang lain. Tapi terlambat. Kamu berkata itu setelah malam yang kian merajuk hingga saya kehabisan kata karena sudah terjadi.
Mungkin kamu sudah lelah untuk berkata agar saya tidak pergi.
Tapi dengan berkata untuk tidak pergi saja buat saya itu tidak cukup.
Terlebih ketika peristiwa ini kita putar balik, dan saya tertohok mendengar penuturan kamu. SAYA MARAH!!!! Tapi tidak pernah tahu bagaimana caranya marah
Kemarahan itu membuat saya semakin jatuh, tanpa pijakkan. Tanpa pegangan yang mampu menopang. Hingga terjebak dalam sebuah keputusan akan pilihan yang seharusnya mungkin tidak saya ambil.
Saya tahu ini keliru... egois memang ketika saya memutuskan untuk bersama dia tapi saya masih mau kamu.
Tapi bukankah itu kamu yang minta?
Membiarkan saya pergi dan ingin tetap dalam kondisi yang seperti ini?
Awalnya saya mengelak, karena ketika saya keluar dari pintu itu, saya tidak akan pernah kembali lagi. Karena kalau saya kembali lagi, lantas apa bedanya dengan keadaan yang sekarang?
...